Faktor Risiko Penyakit Jantung yang Patut Diwaspadai

Kenali bentuk gangguan/penyakit jantung

Bentuk penyakit atau gangguan jantung, sebenarnya sangat bervariasi. Seringkali penderita mengalami lebih dari satu gangguan dalam waktu yang bersamaan (terjadi komplikasi). Penyakit atau gangguan itu bisa terdiri dari penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, angina, atherosklerosis, gagal jantung, dll.

Namun gangguan jantung yang umum adalah angina. Penyebabnya yaitu kerusakan pada arteri koroner. Bila arteri koroner tersumbat karena penumpukan kolesterol, untuk melakukan aktivitas fisik yang sedang saja sulit karena otot jantung tidak mendapat cukup pasokan darah untuk berfungsi normal.

Gejala yang dirasakan penderita biasanya adalah nyeri di dada atau di lengan, baik sebelah maupun keduanya secara tiba-tiba. Sehingga penderita hanya bisa diam sampai rasa nyeri itu berlalu.

Sebaiknya kita tidak menunggu sampai terjadi gangguan jantung seperti itu, apalagi jika sampai berakibat fatal.  Jauh lebih baik mencegahnya sedini mungkin dengan cara meminimalkan risikonya.

Kelola risikonya dengan baik

Untuk mencegah terjadinya gangguan atau penyakit jantung semacam itu, tak pernah terlambat untuk mulai membuat perubahan dalam gaya hidup kita sehari-hari. Penyakit jantung biasanya dipicu oleh sejumlah faktor risiko.

Ketahui segera apa saja faktor risiko penyakit jantung yang pelu diwaspadai, yang ada pada diri kita, dan mulailah menguranginya satu demi satu.

Memang ada faktor risiko yang tidak dapat kita ubah, misalnya saja faktor usia yang sudah di atas 60 tahun sehingga memunculkan risiko, jenis kelamin pria (karena wanita baru berisiko mengalami gangguan jantung setelah menopause), atau adanya riwayat penyakit jantung di dalam keluarga.

Tetapi biasanya faktor risiko itu muncul lebih dari satu. Jadi sebaiknya kita fokus saja pada faktor risiko yang dapat dicegah atau dihindari, seperti misalnya faktor-faktor risiko berikut ini:

1. Kadar kolesterol tinggi

Kadar kolesterol yang tinggi akan menaikkan risiko terjadinya serangan jantung atau stroke. Karena itu, penting untuk mengetahui kadar kolesterol kita dengan cara memeriksakan diri secara berkala. Terutama jika sudah memiliki faktor risiko lainnya seperti adanya riwayat penyakit jantung dalam keluarga, merokok, tekanan darah tinggi, dll.

Berapa sebenarnya kadar kolesterol yang normal? Kadar kolesterol total yang masih dibawah atau mendekati 200 mg/dL masih masuk kategori bisa ditoleransi, sedangkan kadar kolesterol total sekitar 200-239 mg/dL sudah masuk pada ambang batas tinggi.

Jika angkanya mencapai lebih dari 240 mg/dL berarti sudah termasuk kolesterol tinggi. Usahakan untuk menurunkannya.

2. Tekanan darah tinggi/hipertensi

Tekanan darah yang tinggi bisa mempengaruhi kerja jantung. Banyak diantara orang yang mengalami serangan jantung ternyata juga menderita tekanan darah tinggi atau hipertensi. Selain itu, tekanan darah yang tinggi juga bisa menyebabkan gagal jantung.

Penyebabnya yaitu karena tugas jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Nah, tekanan darah yang tinggi akan memaksa jantung bekerja lebih keras karena harus melawan tekanan darah yang tinggi itu. Akibatnya, otot jantung jadi membesar, dan lama kelamaan menjadi kaku dan membengkak.

Sayangnya, tekanan darah yang tinggi tak selalu bisa diketahui atau dirasakan gejalanya. Jadi sebaiknya periksakan tekanan darah secara berkala dan segera atasi bila tekanan darah melonjak melebihi batas normal. Bila mungkin, sediakan alatnya di rumah sehingga tekanan darah bisa terpantau setiap saat.

3. Kegemukan

Kelebihan berat badan memiliki dampak yang buruk bagi jantung. Orang yang kelebihan berat badan umumnya lebih besar risikonya menderita penyakit jantung koroner dibandingkan dengan orang yang langsing.

Tubuh yang lebih besar membutuhkan alirah darah yang lebih banyak. Peningkatan aliran darah ini bisa menyebabkan tekanan darah tinggi yang akhirnya akan berakibat terjadinya serangan jantung.

Selain itu, jantung juga dipaksa untuk memompa lebih banyak darah. Sayangnya, dengan beban kerja yang bertambah ini, jantung tidak menjadi lebih sering berdetak. Untuk mengalirkan lebih banyak darah, jantung justru membesar.

Begitu membesar, kemampuan jantung untuk meremas pun berkurang sehingga pada akhirnya jantung tidak mampu lagi mengeluarkan darah pada setiap detak jantung. Gagal jantung kongestif bisa terjadi bila darah menggenang di jantung.

4. Diabetes mellitus

Mengapa diabetes memperbesar risiko seseorang untuk terkena serangan jantung? Karena orang yang menderita diabetes tubuhnya tidak mampu memetabolisme karbohidrat dengan baik.

Mereka tidak memiliki cukup insulin untuk memasukkan glukosa di aliran darahnya ke dalam sel. Akibatnya, kadar glukosa di dalam darahnya cenderung tinggi.

Kadar glukosa darah yang tinggi ini bisa merusak saraf dan pembuluh darah. Bisa mengakibatkan terjadinya komplikasi seperti serangan jantung dan stroke.

Karena itu, kadar gula darah perlu dijaga dalam batas normal.

5. Kebiasaan hidup dengan tingkat stres tinggi

Stres sebenarnya tak selalu buruk karena stres juga bisa mendorong orang untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih lebih baik. Namun stres yang berlebihan dan terjadi terus-menerus tentu tidak baik. Selain menurunkan daya tahan tubuh juga tidak baik untuk jantung.

Stres dapat menimbulkan perangsangan saraf simpatis. Membuat irama detak jantung tak teratur hingga menimbulkan penyakit jantung koroner.

Stres juga menimbulkan depresi yang menyebabkan hiperagregasi trombosit dan hiperkortisolemia sehingga memperparah penyumbatan pembuluh darah koroner.

Jadi bila gaya hidup sehari-hari menyebabkan stres tinggi, cobalah untuk mengatasinya dengan cara meditasi atau relaksasi, misalnya saja dengan cara memandangi ikan hias di akuarium, atau minum teh herbal camomile atau mint.

6. Kebiasaan merokok

Sebetulnya akibat buruk dari kebiasaan merokok sudah bisa dibaca pada bungkusnya. Akibat kebiasaan merokok pada jantung umumnya adalah penyakit jantung koroner. Namun orang yang sudah kecanduan rokok biasanya tidak memperhatikan hal itu karena sudah sulit untuk berhenti.

Bila sulit untuk langsung berhenti, setidaknya jumlah rokok yang dihisap perhari bisa dikurangi sedikit demi sedikit. Hingga suatu saat bisa dihentikan sama sekali.

7. Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol

Kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan penyakit jantung dan hipertensi. Meminum minuman beralkohol dapat melemahkan otot jantung yang membuat jantung tidak dapat  darah secara efisien.

Lama kelamaan, hal itu bisa menyebabkan gagal jantung. Itulah sebabnya kebiasaan minum termasuk kebiasaan buruk yang sebaiknya ditinggalkan.

8. Kurang berolah-raga

Olah raga akan membuat tubuh sehat dan bugar. Kurang olah raga, apalagi jika kebiasaan sehari-hari juga kurang gerak (misalnya biasa bekerja di belakang meja), tidak hanya membuat tubuh kurang fit tapi juga membuat daya tahan tubuh menurun.

Terlebih jika pola makan tidak terkontrol, akibatnya tubuh lebih mudah kelebihan berat badan yang pada akhirnya juga berakibat buruk pada jantung.

9. Terlalu banyak konsumsi makanan berlemak jenuh tapi kurang serat serta makanan segar

Pola makan yang buruk juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Terutama jika terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak jenuh tetapi kurang serat dan makanan segar.

Makanan yang enak biasanya juga kaya lemak dan kolesterol. Karena itu jika kadar kolesterol sudah cukup tinggi, berhati-hatilah dengan makanan berlemak jenuh.

Perbanyak makanan berserat dan makanan segar seperti sayuran  dan buah-buahan, karena serat dapat membantu menyerap kelebihan  kolesterol dan membantu mengeluarkannya dari dalam tubuh.

Jadi, itulah diantaranya faktor risiko penyakit jantung yang perlu diwaspadai. Jika ada diantara faktor risiko tersebut yang menjadi masalah kita, selagi bisa dihindari, diatasi, atau dicegah, sebaiknya lakukanlah secepatnya. IN

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *