Mengharmoniskan emosi dengan sentuhan ringan (Jin Shin Jyutsu)

Apakah Anda sering mengalami emosi yang sulit terkendali seperti sedih berlebihan, marah, panik, atau kuatir berlebihan? Tentunya hal itu tidak membuat nyaman bukan?

Saya jadi ingat prinsip 90/10 dari Stephen J. Covey yang menjelaskan bahwa sebenarnya 10 persen dari hidup kita terjadi karena apa yang langsung kita alami. Sedangkan 90 persen sisanya ditentukan oleh cara kita bereaksi.

Jadi ketika suatu masalah terjadi tanpa mampu kita cegah, maka ketika kita bereaksi baik maka biasanya hal-hal yang baiklah yang akan kita alami. Namun saat kita bereaksi buruk, biasanya masalah yang kita hadapi justru menjadi semakin banyak.

Itulah sebabnya kita perlu memiliki ketrampilan untuk mengendalikan emosi dengan baik, karena sangat menentukan cara kita bereaksi dengan kehidupan. Lalu bagaimana caranya bila masih sering terbawa emosi?

Sebuah kabar baik untuk Anda ….  ada lho cara yang mudah untuk mengatasinya, cuma dengan sentuhan yang bisa dilakukan sendiri di mana saja dan kapan saja, yaitu dengan cara penyembuhan jin shin jyutsu.

Apakah Anda tertarik untuk mencoba?

Kesederhanaan Jin Shin Jyutsu

Hal pertama yang perlu disadari ketika mempraktikan penyembuhan lewat sentuhan atau Jin Shin Jyutsu ini adalah bahwa penyembuhan itu tak selalu harus kita jalani lewat proses yang sulit dan menyakitkan.

Jin Shin Jyutsu ini adalah satu bukti bahwa penyembuhan juga bisa dilakukan hanya lewat sentuhan. Penyembuhan Jin Shin Jyutsu memang sangat sangat sederhana. Begitu sederhananya sehingga bagi banyak orang hal ini terkadang sulit dipercaya.

Dalam kenyataannya, lewat kesederhanaan penyembuhan ini telah banyak terjadi keajaiban. Keajaiban pertama adalah yang terjadi pada Jiro Murai, pria Jepang yang menemukan kembali penyembuhan kuno ini.

Jiro Murai yang saat itu divonis dokter tak mungkin sembuh karena tak ada satu pun dokter di sana yang mampu menyembuhkan penyakitnya, ternyata akhirnya justru sehat kembali.

Bagaimana sebuah sentuhan saja bisa menyembuhkan?

Jin Shin Jyutsu adalah seni mengenal diri

Untuk memahami penyembuhan Jin Shin Jyutsu, pertama-tama saya ingin mengutip catatan Mary Burmeister, yaitu murid Jiro Murai, dari buku Jin Shin Jyutsu karya Nugdha Achadie (sebagai catatan, saya mempelajari Jin Shin Jyutsu ini dari Nugdha Achadie dan dengan tulisan ini saya hanya ingin share sedikit dari yang pernah saya pelajari dari beliau). Kutipan itu bagi saya sangat menarik sehingga ingin saya share di sini:

  • Sang Pencipta adalah kekuatanku
  • Kehendak Sang Pencipta tidak akan membawa engkau di mana kemuliaan Sang Pencipta tidak akan mampu menjaganya.
  • Sang Pencipta tidak akan membebankan sesuatu yang tidak dapat disangga oleh ciptaan-Nya
  • Kekuatan Sang Pencipta terdapat di dalam diri kita. Masing-masing dari kita telah dianugerahkan secara utuh apa yang kita perlukan dalam mengarungi kehidupan.
  • Kekuatan sejati tidaklah berbentuk sesuatu yang berwujud.
  • Untuk mengalami kebebasan yang sesungguhnya, seseorang tidak akan pernah menggantungkan kepada yang lain selain Sang Pencipta, bagaimana pun caranya.

Mary Burmeister

Agar bisa paham mengapa Mary membuat catatan demikian, marilah kita melihat sekilas konsep Jin Shin Jyutsu. Menurut konsep Jin Shin Jyutsu, di seluruh alam semesta dan setiap diri manusia, mengalir energi kehidupan yang murni. Nafas adalah ekspresi yang paling mendasar untuk mengalirnya energi kehidupan ini.

Bila kondisi kita harmonis, maka energi akan bergerak bebas. Namun saat energi ini terhambat, maka akan timbul berbagai keluhan atau ketidaknyamanan di dalam tubuh. Hambatan itu dapat menciptakan masalah di tingkat fisik, mental dan emosional.

(Sampai di sini mungkin Anda bisa mulai menangkap bahwa penyembuhan Jin Shin Jyutsu ini bekerja pada medan energi yang efeknya bisa mempengaruhi tubuh fisik, pikiran, dan jiwa kita).

Aliran energi dalam tubuh manusia tadi, mengalir mengikuti jalur energi yang menghubungkan sirkuit seluruh tubuh. Nah, sebagaimana listrik di rumah, listrik di dalam tubuh kita juga memiliki semacam sekering sebanyak 26 buah yang biasa disebut kunci pengaman energi (safety energy lock atau disingkat SEL).

Kunci pengaman energi atau ‘sekering’ yang berjumlah 26 tadi bertugas menghentikan sementara aliran energi tubuh saat terjadi gangguan akibat energi yang tidak seimbang. Saat aliran dihentikan maka posisi sekering akan berada dalam kondisi terkunci. Kondisi itulah yang kemudian kita rasakan sebagai suatu keluhan atau penyakit.

Untuk melakukan penyembuhan, atau dengan kata lain mengharmoniskan atau menyeimbangkan kembali energi di dalam tubuh, kita hanya perlu membuka kembali sekering yang berada dalam kondisi terkunci tadi dengan cara menyentuhnya menggunakan kedua telapak tangan mengikuti resep tertentu sehingga energi yang tersumbat kembali mengalir lancar.

Alat yang kita perlukan di sini memang hanya kedua telapak tangan. Mungkin itu sebabnya dalam kutipan di atas Mary mengatakan bahwa  … masing-masing dari kita telah dianugerahkan secara utuh apa yang kita perlukan dalam mengarungi kehidupan.

Cara mengharmoniskan emosi dengan Jin Shin Jyutsu

Setelah mulai paham konsep Jin Shin Jyutsu (JSJ), tentunya kini Anda ingin tahu bukan di mana posisi ke 26 kunci pengaman yang ada dalam tubuh kita?  Posisinya sama saja dengan titik-titik akupunktur atau akupressure. Itu sebabnya JSJ seringkali juga disebut sebagai akupunktur tanpa jarum dan akupressure tanpa tekanan.

Namun tak seperti akupunktur atau akupressure, dalam penyembuhan JSJ titik yang digunakan hanya berjumlah 26 buah dan semuanya bisa dilihat pada gambar berikut:

26 SEL dalam JSJ
Posisi titik kunci pengaman energi dalam JSJ, sumber: Jin Shin Jyutsu, japanisches Heilströmen – Zu Jin Shin Jyutsu | HEALTH-GESUNDHEIT- | Pinterest

Karena dalam tulisan ini kita ingin mengatasi masalah emosional, maka kita tidak akan membahas ke 26 titik dalam gambar tadi tapi langsung ke resep JSJ untuk masalah emosional, yaitu melalui jari dan telapak tangan yang bisa kita lihat dari gambar selanjutnya:

Posisi jari yang bisa diharmoniskan dengan cara digenggam
Ini dia posisi jari yang dapat kita harmoniskan dengan cara menyentuhnya. Sumber: losingweightdone.com.

Nah, sekarang Anda mengerti bukan? untuk mengatasi masalah emosional kita hanya perlu menggenggam jari-jari kita begitu saja sesuai dengan masalah masing-masing. Itu bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Cara menggenggamnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Cara menggenggam jari untuk mengharmoniskan
Begini caranya menggenggam jari tangan, sumber: https://www.pinterest.com/pin/568860996658595898/ (abaikan bahasa daerahnya).

Saat kita menggenggam jari juga tak perlu membayangkan apa-apa, tak perlu mengharapkan apapun. Juga tak perlu dicari rasanya apa. Cukup digenggam dan rileks saja. Bila perlu bisa dilakukan sambil berdoa atau berdzikir. Lamanya menggenggam juga senyamannya kita, bisa 5 menit, bisa juga 10 menit.

Posisi jari untuk mengatasi masalah emosional ini juga berkaitan dengan 5 organ penting dalam tubuh kita, maka mengharmoniskan emosi juga akan memiliki efek membuat harmonis 5 organ tubuh kita.

Mengenali penyebab terhambatnya aliran energi

Setelah mengetahui cara mengharmoniskan emosi, tentunya Anda juga perlu memahami apa saja yang bisa menyebabkan terhambatnya aliran energi.

Pada dasarnya, penyebab ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan aliran energi adalah 5 sikap hati yang ada dalam gambar di atas tadi, yaitu kuatir, takut, marah, sedih dan kepura-puraan.

Jadi perlu disadari bahwa masalah emosional pada diri seseorang ternyata tidak hanya berdampak pada pengalaman hidupnya sehari-hari, namun akhirnya juga akan menghambat aliran energi yang bisa memunculkan keluhan atau penyakit.

Membuka kembali ‘sekering’ dan melancarkan kembali aliran energi hanyalah usaha menyelesaikan masalah untuk sementara. Selanjutnya tentu harus melakukan perubahan. Anda tidak dapat menyembuhkan tubuh dengan menggunakan pikiran yang membuat dia sakit (Albert Einstein).

Sumber keluhan yang kita alami bukan tubuh kita. Tubuh hanyalah merefleksikan cara kita menata pikiran dan jiwa dalam menghadapi kehidupan.

Dan segala bentuk penderitaan yang dialami manusia pada dasarnya adalah akibat sulitnya menerima realita yang sedang terjadi.

Jadi kesembuhan bisa terjadi saat kita kembali dekat dengan Sang Pencipta, sehingga mampu menepis ketakutan menghadapi kehidupan dan menerima dengan baik segalanya yang terjadi (lebih mampu berserah diri).

Mari melihat kembali catatan Mary Burmeister di atas (ini bukan hal baru bagi kita sebenarnya, karena hal ini juga disebutkan dalam kitab suci):

  • Kehendak Sang Pencipta tidak akan membawa engkau di mana kemuliaan Sang Pencipta tidak akan mampu menjaganya.
  • Sang Pencipta tidak akan membebankan sesuatu yang tidak dapat disangga oleh ciptaan-Nya

Kebahagiaan adalah suatu indikasi dari kondisi yang harmonis. Jadi untuk sehat dan bahagia, kita perlu mencintai apapun yang kita lakukan, meskipun tidak menyenangkan atau bahkan membosankan. Termasuk menerima segala hal yang terjadi dan mencoba bereaksi sepositif mungkin.

Kebencian kita terhadap sesuatu akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam kehidupan yang akhirnya hanya akan menimbulkan kelelahan.

Jadi, selain melakukan penyembuhan, kita juga perlu mulai berubah (termasuk saya tentunya). Karena setiap hari adalah hari yang baru, lembaran yang baru. Jika selama ini mungkin terlalu serius memandang hidup, kini cobalah  lebih banyak tersenyum dan menghadapi hidup dengan rileks.

Seperti catatan yang ditulis guru saya, Nugdha, dalam buku latihan: Tersenyumlah. Jatuhkan bahu dan rileks. Ijinkan bahu untuk ‘meleleh’ hingga ke jari-jari kaki. IN

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *