Wisata Herbal di Taman Sringanis Bogor

Apakah Anda gemar mengoleksi tanaman obat di rumah? Kali ini saya ingin share sebuah kebun tanaman obat yang menarik, yang tidak hanya menyediakan bibit berbagai tanaman obat, namun juga bisa menjadi tempat belajar tanaman obat, bahkan juga tempat terapi pengobatan alami.

Taman Sringanis, kebun percontohan dan pelestarian tanaman obat

Namanya tempatnya yaitu Taman Sringanis. Letaknya di Desa Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan. Tidak sulit menemukan tempat ini, karena tempatnya tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Batutulis.

Taman Sringanis
Taman Sringanis Bogor

Taman Sringanis adalah sebuah kebun percontohan tanaman obat. Pemiliknya yaitu Pak Putu Oka Sukanta dan Ibu Endah Lasmadiwati. Mereka berdua membangun tempat ini pada tahun 1992, di atas lahan seluas 1.000 meter persegi.

Papan nama Taman Sringanis
Taman Sringanis

Nama Taman Sringanis diambil dari nama orang tua Pak Putu, yaitu Ni Ketut Taman dan Ni Ketut Sringanis. Saat ini di Taman Sringanis terdapat sekitar 450 jenis tanaman obat yang berasal dari seluruh Indonesia. Jadi bisa dikatakan tempat ini juga merupakan tempat pelestarian tanaman obat Indonesia.

Ibu Endah laksmadiwati
Ibu Endah saat memberikan materi pelatihan Tanaman Obat

Pak Putu dan Ibu Endah selain dikenal sebagai penulis buku-buku tanaman obat juga dikenal sebagai akupunkturis. Karena itu, mereka pun membangun klinik akupunktur di Taman Sringanis, lengkap dengan tempat penjualan jamu, hingga kafe jamu. Secara berkala, Taman Sringanis juga menyelenggarakan pelatihan pengobatan dan tanaman obat.

Klinik Pengobatan Alami
Klinik Pengobatan Alami di Taman Sringanis

Visi Misi Pak Putu dan Bu Endah saat mendirikan Taman Sringanis diantaranya yaitu untuk mengajak masyarakat memberdayakan tanaman obat di lingkungan sekitar untuk mencegah dan mengobati penyakit secara mandiri. Jadi tempat ini memang sangat tepat untuk dijadikan destinasi wisata herbal.

Ruang Pelatihan
Tempat Pelatihan Tanaman Obat di Taman Sringanis

Kenyataannya, hingga saat ini masyarakat Indonesia masih banyak yang tak menyadari bahwa di sekelilingnya terdapat ratusan macam tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk mencegah dan mengobati penyakit. Mereka yang sudah mengenal tanaman obat dan yang hobi mengoleksi pun tidak semuanya mengerti cara mendayagunakannya untuk mencegah dan mengobati penyakit.

Jamu
Jamu Godog

Tanaman herbal dan aneka ceritanya

Di Taman Sringanis, setiap tanaman obat sudah diberi papan nama dan keterangan mengenai manfaat dari tanaman itu untuk pengobatan. Jadi bagi yang ingin belajar tanaman obat, kebun percontohan ini tentu sangat menyenangkan. Anda mungkin akan terheran-heran melihat tanaman biasa, rumput liar, bahkan bahan masakan yang selama ini disepelekan ternyata begitu banyak manfaatnya.

Setiap tanaman di Taman Sringanis sudah diberi keterangan nama dan manfaatnya

Bahkan tanaman yang selama ini hanya dikenal sebagai tanaman hias dan biasa ditanam di pekarangan pun ternyata memiliki manfaat tak terbayangkan. Misalnya saja tapakdara, bunga yang banyak ditanam di pekarangan ini ternyata dapat digunakan untuk melawan kanker.

Tapak Dara
Tapak Dara

Kemudian daun pegagan yang biasanya hanya dianggap gulma karena tumbuh di sawah ternyata memiliki khasiat ampuh untuk mencerdaskan otak. Pak Dudy, asisten Ibu Endah menceritakan tentang seorang anak yang berubah nasibnya karena daun pegagan.

Awalnya anak itu menderita keterbelakangan sehingga mestinya bersekolah di sekolah luar biasa. Namun ibu anak itu dengan penuh percaya diri menyekolahkannya di sekolah biasa sambil memberinya lalapan daun pegagan setiap hari.  Hasilnya, anak itu bisa mengikuti pelajaran di sekolah, bahkan beberapa tahun kemudian berhasil menjadi juara kelas.

Mengenal manfaat aneka tanaman obat juga akan membantu kita mengatasi aneka keluhan ringan, sehingga tidak perlu sedikit sedikit pergi ke dokter atau sedikit sedikit mencari obat warung. Dengan begitu, Anda bisa hidup lebih sehat, lebih hemat dan bisa menggunakan kelebihan uang itu untuk hal yang lebih menyenangkan, seperti shopping, traveling … ehh

Kucai
Kucai, bahan masakan sehari-hari juga ada khasiat obatnya

Tidak semua negara memiliki kekayaan alam berupa tanaman obat yang begitu banyak ragamnya seperti Indonesia. Begitu sayangnya Tuhan pada bangsa ini, sehingga sudah sepantasnya jika kita berbangga hati dan lebih menghargai tanaman obat dan jamu. Bagaimanapun, jamu juga merupakan bagian dari tradisi dan budaya bangsa yang patut dilestarikan, begitu yang sering disampaikan Ibu Endah dalam setiap acara pelatihan.

Menurut Ibu Endah lagi, saat ini negara lain juga sudah mengakui hebatnya khasiat tanaman obat dari Indonesia. Temulawak yang selama ini biasa diminum penderita lever telah diteliti oleh ahli dari Amerika dan diakui efektivitasnya sebagai obat hepatitis.

Saat ini Amerika sudah mempatenkan temulawak sebagai obat hepatitis. Sayang ya, paten jamu kita justru yang punya Amerika.

Pak Dudi, Asisten Ibu Endah juga bercerita tentang kedatangan sekelompok ahli dari suatu Universitas di Korea ke Taman Sringanis. Bayangkan, jauh-jauh dari Korea mereka datang ke Bogor hanya untuk menanyakan temu kunci, yang biasanya hanya kita jadikan bumbu sayur bening bayam.

Ternyata mereka begitu terkesan dengan kisah tentang Dayang Sumbi yang cantik dan awet muda sehingga membuat Sangkuriang, anaknya sendiri jatuh cinta. Konon Dayang sumbi selalu mengonsumsi temu kunci.

Setelah tahu seperti apa temu kunci, mereka lalu menelitinya dan menyimpulkan ternyata temu kunci memang memiliki khasiat untuk membuat awet muda. Mereka lalu memproduksi obat awet muda dari temu kunci. Tak disangka bukan?

Selama ini kita begitu terpesona saat melihat penampilan elok dari para bintang dalam drama korea. Kita kagum dengan penampilan mereka yang nampak alami. Ternyata mereka justru mencari bahan obat awet mudanya ke Indonesia.

Sebenarnya masih banyak kisah menarik yang berhubungan dengan herbal dari Taman Sringanis. Namun karena sudah cukup panjang, saya sudahi cerita tentang wisata herbal di Taman Sringanis Bogor ini sampai di sini, supaya Anda tidak bosan membacanya. IN

Pencarian dari Google :

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *